Redemption Song
song by Bob marley
G Em7
Old Pirates, yes, they rob I.
C G/B Am
Sold I to the merchant ships
G Em C G/B Am
minutes after they took I from the bottomless pit.
G Em7
But my hand was made strong
C G/B Am
By the hand of the Almighty.
G Em C D
We forward in this generation triumphantly.
Chours :
G C D G
Won't you help to sing these songs of freedom?
C D Em C D G
'Cause all I ever had, redemption songs,
C D G
redemption songs.
G Em7
Emancipate yourselves from mental slavery,
C G/B Am
None but ourselves can free our minds.
G Em
Have no fear for atomic energy,
C G/B Am
'Cause none of them can stop the time.
G Em7
How long shall they kill our prophets
C G/B Am
While we stand aside and look?
G Em
Yes, some say it's just a part of it.
C D
We've got to fulfill the book.
chorus :
G C D G
Won't you help to sing these songs of freedom?
C D Em C D G
'Cause all I ever had, redemption songs,
(C D Em) 4x
(sama kaya chords part 1)
Emancipate yourselves from mental slavery,
None but ourselves can free our minds.
Have no fear for atomic energy,
'Cause none of them can stop the time.
How long shall they kill our prophets
While we stand aside and look?
Yes, some say it's just a part of it.
We've got to fulfill the book.
Won't you help to sing these songs of freedom?
'Cause all I ever had, redemption songs,
These songs of freedom, songs of freedom.
final - C G Am
Read more...
Laman
Minggu, 27 Maret 2011
Redemption Song
Rabu, 23 Maret 2011
Is This Love
Is this Love
song by Bob marley
F#m
I wanna love you
D A
and treat you right.
F#m
I wanna love you
D A
every day and every night.
F#m
We'll be together
D A
with a roof right over our heads.
F#m
We'll share the shelter
D A
of my single bed.
F#m
We'll share the same room,
D A
Jah provide the bread.
>>==Refrain==<< C#m C#m
Is this love, is this love, is this love,
Bm Bm
is this love that I'm feeling?
C#m C#m
Is this love, is this love, is this love,
Bm Bm
is this love that I'm feeling?
- Bm (Bm C#m D E)
Bm
I wanna know, wanna know, wanna know now.
C#m (Bm C#m D E)
C#m
I've got to know, got to know, got to know now.
Bm
I... I'm willing and able,
F#m E D C#m Bm
so I throw my cards on your table.
F#m
I wanna love you
D A
I wanna love and treat, love and treat you right.
F#m
I wanna love you
D A
every day and every night.
F#m
We'll be together
D A
with a roof right over our heads.
F#m
We'll share the shelter
D A
of my single bed.
F#m
We'll share the same room,
D A
Jah provide the bread.
Read more...
Republik Sulap
Republik Sulap
song and liric by Tony Q rastafara
intro : Am Em
Am Em Am Em
Aku lahir Di Negeri Sulap
Am Em Am Em
Aku Besar Di Republik Sulap
Am Em
Negerinya Para Pakar pesulap
Am Em
Suka menyulap apa saja
Am Em
Dari gag ada Hingga di ada-ada
Am Em
Dari yang ada Hingga Tiada
Reff -->
C G
Bim Salabim Bim Salabim
F G
Abrakadabra Nggedebus
C G
Bim Salabim Bim Salabim
F G
Abrakadabra Nggedebus
interlude -->
Am Em Am Em
Read more...
Kong kali Kong
Kong Kali Kong
song and Lyric by Tony Q rastafara
Intro : A D A D
A D
Verse : Di putar di putar putar kong kali kong kong kali kong (2x)
A D
cokot-cokotan cokot-cokotan saling tuduh saling gigit
A D
cokot-cokotan cokot-cokotan saling caplok
A D A D
semakin bosan kita dibuatnya , biar lupa akar masalahnya
A D
Terombang-ambing Terombang-ambing Masyarakat Terombang-ambing
A
melihat kenyataan tingkah laku para pemimpin yang telah disumpah
D
untuk menjadi pemimpin yang seharusnya bertanggung jawab
A D
Pada kita semua yang dipimpinnya Bukan sebaiknya harus membabi buta
A D
Proyek ini proyek itu Demi keuntungan diri sendiri
A D
Sikat sana sikat sini Bikin sengsara rakyat sendiri
Reff --> A
Terulang terulang terulang terulang lagi
D
korupsi masih saja merajalela
A D
Terulang terulang terulang terulang lagi
A D
Akankah sila kelima dari Pancasila Bisa terwujud segera?
A D
Kalau masih banyak pemimpin kita menghilangkan rasa cinta
A
keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia
D
apakah ini akan jadi slogan belaka
A
Sejahtera bagi rakyat indonesia
D
Mungkin akan menjadi sebuah dongen
A
Bla bla bla bla Bla bla bla bla ......
kembali ke verse ,Reff
A D
Diputar diputar putar Kong kalikong kong kali kong
D
kong kali kong kong kali kong
Read more...
Selasa, 22 Maret 2011
Reggaenatinon (semarang)
REGGAEnation with SHAGGYDOG,LANGENSUKO
LIQUID semarang
senin,28 maret 2011 jam 21.00-drop
Let's BURN your SOUL with REGGAE!!!! Read more...
The Reggae Sound (jakarta pusat)
The Reggae Sound..
Dont Miss It...!
Friday 25 March 2011 @ EX Jakarta Pusat.
be there...its FREE ENTRY...
Jah bless... Read more...
Wajib Di Contoh !!!
Sedikit Flashback dari cerita Tony q rastafara saat merilis Album Anak Kampung beberapa tahun yang lalu , (sudah lama sekali yaa ) ..
Anak kampung yang berontak dari pabrik kaleng ini Memilih hidup dan bermusik di jalanan. Walau digasak dan dicemooh orang, tetap memilih reggae sebagai jalan hidupnya. Lagunya direkam Putumayo label terkenal didunia untuk world music. terkenal di ajang festival di Amerika tetapi selalu ditolak Kedutaan Amerika di Jakarta ketika mengurus visa untuk keberangkatannya..
Inilah Veteran reggae kita yang selalu bersahaja, sederhana dan tidak sombong walaupun beliau sedang diatas (terkenal –red)
SELALU ada berita baru tentang reggae dari Tony Q Rastafara. Selalu ada album atau master musik reggae di dalam tas kecilnya yang akan diperlihatkan kepada orang yang tertarik ingin mencari tahu apa yang kini dikerjakannya. Atau sebuah buku, Bob Marley: Rasta, Reggae, Revolusi yang agak lusuh karena sering dibaca dari tangan ke tangan, Beliau selalu membahasnay bersama beberapa kawan di Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan, kebetulan dia memberi komentar singkat di sampul belakang. Tony Q, memang reggaeman yang bersemangat!
Kadang dia menghilang dari Jakarta beberapa bulan untuk melakukan konser di beberapa kota di Jawa dan Bali. Biasanya digelar di kampus-kampus, atau bar dan cafe. Kadang langkahnya panjang hingga mancanegara, “Aku mau berangkat ke Aus, nih!” katanya lewat telepon seluler, suatu kali. Maksudnya pergi ke Australia untuk melakukan mixing di Sound Warp untuk album Anak Kampung, yang telah dirilisnya beberapa tahun lalu.
Album Anak Kampung, melibatkan Fully Fullwood, pionir reggae, seorang bassist yang cukup penting perannya dalam perkembangan musik reggae di Jamaika pada dekade 70an.
Selama tigapuluh tahun karir musiknya, Fullwood pernah bekerjasama dengan Bob Marley, Peter Tosh, Black Uhuru, Gregory Isaacs hingga The Mighty Diamondas. Beberapa tahun yang lalu, Fully Fullwood dan kawan-kawannya di band Tosh Meets Marley sempat melakukan tur konser di Pekan Raya Jakarta (PRJ) dan Bali. Di belakang panggung konser, Tony Q diperkenalkan kepada Fully Fullwood dan kawan-kawan, serta manajer Mark Miller.
Tiba-tiba saja scene reggae di tanah-air heboh melihat kedekatan Tony Q dengan Fully Fullwood yang kemudian berujung bekerjasama membuat sebuah album.
Sekembali Tony Q dari Australia, BATAVIASE NOUVELLES menemuinya di Wapres pada suatu petang. Sambil menyeruput kopi pahit dan menghisap rokok kretek dengan diselingi senda gurau, lagi-lagi Tony Q bersemangat menjawab BATAVIASE.
Bagaimana Anda bisa dekat dengan Fully Fullwood lalu bekerjasama membuat sebuah album. Apa ini sebuah kebetulan?
Ya, awalnya memang panitia konser memperkenalkan gue dengan Fully Fullwood. Bagi gue ini seperti mimpi besar. Bisa bernyanyi satu panggung dengan musisi reggae legendaris. Bayangkan, dia bilang,’Reggae lahir di dekat rumah saya.’
Lalu dia cerita tentang Bob Marley yang dulunya masih anak bawang… Wah, orang ini nggak sembarangan. Beberapa lagu Bob Marley kan dia ikut menulis, seperti Mr. Brown, Sun is Shining… Wah, luarbiasa!
Lalu panitia menyiapkan keberangkatan mas tony ke Bali untuk jam-session dengan band Tosh Meets Marley. Nah, ketika di Bali, ini seperti sebuah kebetulan… Setelah konser selesai, manajer band Mark Miller dan Fully serta para musisi ingin jalan-jalan melihat panorama Bali. Ketika itu panitia kabur entah ke mana, sehingga mas tony dan seorang sopir menemani mereka pergi ke Tanah Lot.
Bayangkan, dalam mobil cuma mas tony dan sopir doang orang Indonesia yang mengantar musisi reggae dunia, ada yang datang dari California, Swiss, Kanada. Jadi, walau pun satu band tapi mereka tinggal di negara yang berbeda. Selama perjalanan kita semakin akrab, karena gue membantu motret dan ngejelasin tentang pura Tanah Lot. Mereka sangat senang sekali, happy!
Selama bersama mereka, mas tony nulis lagu Woman yang kata Fully, ’Stag in my head’ dan Mark Miller dapat ide bikin lagu juga, judulnya In The Ghetto, idenya dia dapat ketika melihat orang-orang Jakarta yang bekerja di pagi buta untuk memberi makan keluarga.
Proses rekaman Woman juga terbilang cepat. mereka janjian ketemu di Studio Intro, Kemang, untuk rekaman. Beberapa jam sebelum mereka datang dari Bali, gue udah di studio, karena mas tony pengen tepat waktu, nggak mau telat. Di studio ma stony coba-coba bikin bahan dasar musik untuk Woman dengan gitar. Kemudian Fully datang langsung merespon dengan bass, begitu juga dengan yang lain, memainkan keyboard dan perkusi. Fully saja membuat lima versi bas untuk Woman. Semuanya bagus!
Tapi ma stony harus memilih satu di antaranya.
Anda tadi bilang “Mimpi besar” bernyanyi satu panggung dan bekerjasama dengan Fully Fullwood. Sebenarnya apa sih cita-cita Anda?
Cita-citaku, tampil dalam festival reggae di Jamaika, memperkenalkan reggae Indonesia kepada publik yang lebih luas lagi.
Bagaimana undangan festival reggae internasional selama ini?
mas tony nggak bisa datang ke sana… Karena tidak mendapatkan visa dari kedutaan Amerika. Undangan gue terima tidak lama setelah peristiwa tragedi World Trade Center, sebelas september 2001.
Awalnya panitia Bob Marley Festival di Houston, Texas mengundangku untuk tampil sebagai headliners. Tapi gue nggak mau tampil sendiri karena semua lagu gue kan nggak bisa dimainkan sendiri. Di samping itu, dia punya misi untuk memperkenalkan musik reggae Indonesia untuk publik di sana.
Reggae Indonesia kan ada kendang jaipongnya, talempong minang, suling sunda.. ya kayak gitu! Dia ajukan ke panitia bahwa gue baru mau tampil dengan syarat bisa membawa band
Panitia merespon, ‘Tony kamu bisa mencari player yang kamu butuhkan di Amerika, dari kendang sunda, dll…’. Tapi gue tetap bersikeras, gue baru mau tampil dengan musisi Indonesia. Jumlahnya semua 10 pemain. Lama-lama panitia di sana mengerti dengan kebutuhan gue. Kawan-kawan sudah menyiapkan keberangkatan gue untuk festival itu, mereka mau jadi volunteer, dari membuat ‘malam dana’. Gue sangat terharu!
Tapi ketika mengajukan visa untuk sepuluh musisi di Kedutaan Amerika, kita ditolak. Mungkin pemerintah Amrik masih paranoid, setelah tragedi WTC. Kawan-kawan shock, kok sebagai musisi masih juga dicurigai yang kagak-kagak. Lewat e-mail, gue sebar kabar bahwa Kedutaan Amerika tidak memberikan visa kepada musisi Indonesia. Panitia Bob Marley Festival di Houston cukup kaget juga. Seorang akademisi- musikolog dari West Virginia, Prof. Ann membuat petisi yang didukung para musisi dan akademisi Amerika, yang isinya protes keras terhadap pemerintah Amerika agar memberi kesempatan kepada musisi Indonesia untuk tampil pada sebuah festival musik. Petisi itu dikirim ke Gedung Putih, kantornya Presiden Bush.
Selanjutnya, masih ada undangan festival reggae yang datang?
Dari tahun 2003 sampai 2005, mas tony terus diundang untuk even Legend of Rasta reggae Festival di Houston, Texas. Tapi kan masalahnya, lagi-lagi Kedutaan Amerika di Jakarta tidak memberi visa. Padahal dia banyak mendapat dukungan, baik moril maupun materiil. Promotor Adri Subono dari Java Musikindo, secara pribadi mau ngasih uang puluhan juta kalau gue jadi berangkat. Tapi kenyataannya semua mentok karena nggak dikasih visa. Gue udah usaha, bekerja… Ya, gue sumeleh saja!
Sejak tahun 2004, setiap ada undangan festival reggae internasional, dia mulai cuekin. Tapi orang Amerika memberi dukungan. Mareka tahu lagu gue kan diputar di festival, tapi bertanya-tanya kok orangnya nggak pernah nongol.
Ada orang Amerika yang bekerja sebagai instruktur pada sebuah perusahaan minyak di Houston selalu berhubungan dengan kita lewat e-mail. Beberapa bulan menjelang festival reggae diselenggarakan, dia selalu siap membantu, dari membelikan tiket dan akomodasi. Suatu kali dia menitipkan uang lewat muridnya dari Indonesia, dia orang Batak, yang kebingungan kok ada instruktur perminyakan Amrik punya sahabat musisi reggae dari Indonesia, he..he…he! Lucu juga tuh!
Dari kejadian itu, lama-lama gue baru mengerti, ternyata orang Amerika itu sangat apresiatif dengan musik reggae Indonesia. Prof. Ann, misalnya, selalu memberi gue dorongan terus berkarya. Ketika dia dengar musik gue yang ada elemen musik Sunda, Jawa atau daerah lainnya di Indonesia, dia bilang, itu musikmu enggak ada di Amerika atau Afrika.
Budaya kita kan unik, sejarahnya panjang. Dia akhirnya mengirimkan lagu-laguku kepada Putu Mayo World Record, perusahaan yang berbasis di New York. Satu lagu gue, Pat Gulipat, masuk dalam kompilasi World Reggae berjudul Reggae Playground bersama musisi reggae dunia.
Gue langsung terharu sekaligus bangga, akhirnya musik reggae Indonesia diakui secara internasional.
Tony Q tak pernah menduga lagunya masuk dalam kompilasi Reggae Playground, bersanding dengan Rita Marley, istri Bob Marley dan Judy Mowatt, penyanyi latar The Wailers band Bob Marley, selain itu beberapa musisi yang mengisi album itu antara lain Johny Dread (Kuba), Eric Bibb (Amerika), Alan Schneider (Prancis), Modusta Largo (Maroko), The Burning Soul (Jamaika), Marty Dread (Amerika), Kal Dos Santos (Brasil), Asheba (Trinidad) dan Toot and The Maytals, band lawas dari Jamaika yang melahirkan kosakata “Reggae” ke dunia ini. Seluruh penjualan album ini diperuntukkan pembangunan sekolah taman kanak-kanak di Jamaika. Sebuah program yang bekerjasama dengan Perserikatan Bangsa-bangsa dan Rita Marley Foundation.
Bagaimana Anda melihat perkembangan musik reggae di Indonesia, yang sekarang lagi booming?
Gue selalu mendukung kawan-kawan yang bikin band reggae. Dan selama ini juga gue didukung kawan-kawan. Untuk desain sampul album Anak Kampung, yang bikin Ibnu Hibban, yang sudah menonton band gue sejak dia masih SMP. Sekarang dia sudah sarjana, lulusan jurusan seni rupa Institut Kesenian Jakarta. Cover Anak Kampung adalah skripsi Ibnu, dapat nilai A. Gue kan selalu mendukung sesuatu yang positif, kuncinya asal dikerjakan dengan senang hati semua akan berkembang. Setiap gue ngeband selalu ngajak band-band yang baru untuk jam-sesion. Di musik reggae itu nggak ada jarak, tua-muda saling mendukung. Gue nggak pernah menduga perkembangan reggae di masyarakat seperti sekarang ini, walau media masih memperlakukan seperti anak-tiri, kalau mau dibandingkan dengan musik rock atau pop. Sebagai pelaku reggae, gue akan terus bekerja, berkarya, bikin album…
Ada yang bilang Anda terlalu idealis?
Tolok ukur orang itu apa? Gue sih sederhana saja dalam bermusik. Pertama, harus dilakukan dengan senang hati. Penghasilan gue selama ini dari musik. Gak ada sampingan lain. Kalau gue dulu ngamen di jalanan karena gue melakukan itu dengan senang hati. Kalau gue nyanyi di kafe atau konser di daerah, itu semua gue lakukan dengan senang hati. Banyak juga kan yang mengukur apa yang kita kerjakan dengan berapa uang yang kita dapat… Wah,
itu sih bikin gue tertekan! Gue bikin band, jungkir-balik, terus bubar, karena kawan-kawan dulu nggak punya keyakinan musik reggae bisa diterima pasar. Ukurannya uang! Kalau berkesenian diukur dengan uang dan sukses melulu… yah, kita hidup dalam tekanan. Akhirnya bubar.
Gue sudah puluhan tahun bermusik reggae. Ketika almarhum Imanez masih memainkan karya-karya The Beatles, gue sudah ngereggae. Ketika album reggae dia sukses, gue merasa terpacu untuk berkarya. Iman beruntung karena Potlot mengelola bakat dia. Gue kan berproses dari bawah, dari hidup di jalanan, semua bertahap. Suatu kali gue pernah nyodorin karya gue ke sebuah perusahaan rekaman di Glodok. Tapi syaratnya, album gue akan dirilis tanpa menyertakan vocal gue.
Nama gue tetap dipakai tetapi yang nyanyi orang lain…
Edan! Gue langsung tolak. Begitu gue cerita ke kawankawan, justru gue digasak, dicemooh; ‘kok nggak lu ambil aja itu duit. Kan enak nggak usah capek-capek!’ Gue nggak sependapat! Ini karya gue, dan gue punya kemampuan untuk menyanyikannya. Itu kan suatu keyakinan.
Sekarang terbukti, kawan-kawan yang dulu mencemooh, kebanyakan sudah meninggalkan musik, cari kerja yang tidak ada hubungannya dengan musik. Kalau tetap bermusik, paling hanya memainkan lagu-lagu top-40, tidak berkembang dan penuh dengan tekanan, karena banyak diatur-atur orang dan secara materi gak cukup.
Bermusik itu ekspresi kebebasan. Ya, kita harus merawat kebebasan itu, dengan berkarya, mencari ilmu dan bergaul, mengalir saja… Selama kita memberi dukungan kepada potensi seseorang, pasti ada jalan terbuka untuk kita juga. Ada yang bilang,’wah Tony nyebar virus reggae..’
Padahal kan gue bergaul dengan musisi apa saja, rock, metal, punk… Gue suka pergaulan dan saling memberi apa yang kita tahu. Dulu gue sempat jadi instruktur musik di Wisma Relasi (markas band Steven n’ Coconut Treez).
Dari dalam studio, gue perhatiin ada Steven yang sedang melongok lama dari balik kaca. Dia kan dulu main musik hardcore(music-music yg aliranya keras). Dulu dia Rambutnya panjang belum digimbal kaya sekarang.
Keesokan harinya, kita ketemu. Dia minta dibikinin rambutnya dreadlock. Gue bikinin tiga biji. Besoknya dia datang lagi, semua rambutnya sudah digimbal tetapi numpuk jadi satu biji gede banget. Gue rapiin, gue gunting terus dijalin satu-satu, akhirnya jadi kayak sekarang ini. Dia itu sudah ada talent reggaenya. Kalau dengar band hardcorenya, dalam albumnya ada satu lagu reggae. Jadi gue nggak pernah ngasih virus, atau mempengaruhi dia supaya bermusik reggae. Ketika mengerjakan album pertama Coconut Treez, The Other Side, tony Q dengan teman-teman Rastafara ikut membantu. Bahkan, ketika ada yang datang ke mas tony, namanya Rival, ingin bermain musik reggae, mas tony kenalin ke Steven. Dan akhirnya Sampai sekarang dia jadi bassis Coconut Treez. Dalam hati, mas tony Q senang sekali melihat Steven coconuttrezz yang sekarang dah sangat berkembang
boleh dibilang Tony Q Rastafara klotokan dalam bermusik reggae. Hingga kini Tony Q telah melahirkan beberapa album, yaitu Rambut Gimbal (1996), Gue Falling in Love (1997), Damai dengan Cinta (2000), Kronologi (2003), Salam Damai (2005), anak kampung (2007) , Presiden (2009) , akustik kurang tambah (2010)
Lirik lagu Anak Kampung adalah sepenggal biografi Tony Q ketika merantau di Jakarta. Pria asal Semarang yang terlahir dengan nama Tony Waluyo Sukmoasih pertama kali hidup di Jakarta bekerja pada PT Singapur-Cakung, sebagai buruh bagian quality control, sebuah pabrik kaleng. Merasa tertekan melihat mesin absensi, ia pindah kerja pada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang desain periklanan di Sunter. Suatu kali, ia meminta ijin pada sang bos untuk diperkenankan kuliah seni rupa di Institut Kesenian Jakarta. Tapi si bos tak memberi ijin, justru memberinya setumpuk pekerjaan di percetakan. “Saya marah. Sesuai kontrak kerja kan saya sebagai desainer, hanya menggambar, kok diberi tugas di percetakan. Saya keluar!” sergahnya.
Akhirnya, ia berlabuh di Pasar Kaget Blok-M, hidup secara bohemian dengan mengamen. Ia merasa senang, bebas dan nyaman. “Orangtua saya begitu prihatin mendengar cerita orang-orang bahwa saya ngamen… Padahal saya bahagia dengan cara hidup seperti itu. Banyak teman, makan-tidur-ngamen… hari-hari yang bebas. Ngitung duit jam empat pagi di Hoya. Dapat uang beli senar gitar atau beli buku dan alat-alat lukis,” tutur Tony Q. yang pada masa itu banyak belajar dari musisi jalanan, Anto Baret dan lingkar pergaulan seniman Bulungan. Baginya, rasa was-was orangtua adalah wajar, justru mendorongnya untuk lebih berprestasi.
Perjalanan bermusik Tony Q memang terasah lewat mengamen lalu tampil di kafe-kafe di bilangan Blok-M. “Saya bersyukur ada yang memberi kepercayaan untuk tampil. Selain untuk dapur supaya tetap ngebul, sekaligus bisa bergaul dengan segala kalangan. Saya banyak belajar di sana,” katanya serius. Kini secara berkala Tony Q tampil di BB’s sebuah bar di bilangan Menteng. Di sana kerapkali band-band reggae seperti Steven n’ Coconut Treez, GangstaRasta, dan kadang band reggae dari Yogya, Shaggy Dog tampil menyemarakkan suasana.Tony Q kadang menyanyikan lagu-lagu Bob Marley diringi permainan gitar yang ciamik dari seorang bocah. Pada acara Reggae Gathering dulu waktu peluncuran album Salam Damai, Tony Q melakukan kolaborasi dengan puluhan anak-anak yang memainkan jimbe. Mereka adalah anak-anak yang tinggal di pinggir kali Ciliwung tergabung dalam Sanggar Akar yang dibina oleh Hendrikus pemain perkusi/kendang band Rastafara.
Unsur musik-musik tradisional Indonesia begitu kental dalam lagu-lagu Tony Q Rastafara seperti Paris van Java berlirik bahasa Sunda, Ngayogyakarta berbahasa Jawa, dan Pesta Pantai yang memadukan musik talempong Minang. Perpaduan musik-musik tradisonal Indonesia yang dijelajahi Tony Q Rastafara memikat banyak mahasiswa jurusan musik untuk melakukan penelitian. Dan kabarnya Obie, mahasiswa jurusan musik Institut Seni Indonesia Jogjakarta telah membuat skripsi dari lagu-lagu Tony Q, dengan nilai A.
April tahun kemarin, dalam diskusi tentang musik reggae di Universitas Paramadina, seorang mahasiswa bertanya, “Bagaimana musik reggae bisa mengusung ide revolusioner kalau hanya bermain untuk kalangan atas?”
Sebagai pembicara Tony Q memberi penjelasan berdasarkan pengalaman selama hidup di jalanan. Musik reggae, katanya, lahir dari kalangan bawah yang tertindas dan terpinggirkan. Reggae merupakan musik perlawanan terhadap sistem penindasan. Lirik lagu yang dibuatnya adalah cerminan kenyataan hidup di Indonesia. Pat Gulipat menggambarkan bagaimana kawan makan kawan, atau kehidupan politik dan ekonomi kita yang sakit, saling menilap. Kalau lagu reggae yang berasal dari reality itu didengar kalangan atas di bar atau kafe, kata Tony Q, itu adalah bagian dari proses transformasi. Agar kalangan atas menyadari sisi kehidupan yang lain di kalangan bawah dan menengah.
Adalah sebuah kenyataan pula, kalangan atas Jakarta kini ramai mendatangi gigs reggae seperti yang digelar di Citos-Cilandak Town Square, Colours, News Cafe dan bar-bar lainnya.
PERJALANAN Tony Q dalam bermusik dimulai bersama kawan-kawannya ketika mendirikan band bernama Roots Rock Reggae pada 1989. Namun sayang, band itu tak sempat berlangsung lama, karena kawan-kawannya merasa tidak yakin kalau reggae bisa dipasarkan di tengah masyarakat, hingga bubar paruh 1990. Tahun 1990 Tony Q memndirikan band kembali dengan nama Exodus, namun bubar pada `1992. Kemudian Rastaman, 1992-1994. Terakhir pada 1994 ia mendirikan band Rastafara, hingga bubar tahun 2000. Kini dia lebih memilih berjalan sendiri bersama para additional players-nya.
zaman dulu semua nama band yang didirikannya hampir semuanya mengambil judul lagu Bob Marley. Seperti umumnya pecinta musik reggae, perjalanan musik Tony Q terinspirasi dari perjalanan panjang Bob Marley baik dalam bermusik, juga keterlibatan sosial-politiknya. Di sampul belakang buku yang ditulis Helmi Y. Haska, Bob Marley: Rasta, Reggae, Revolusi (Kepak Book, 2005), Tony Q memberi komentar, “Selama ini gue memperjuangkan pikiran-pikiran Bob Marley. Marley buat gue adalah guru. Gue salut! Bob Marley memperjuangkan manusia supaya bangkit dari mental budak, mental slavery! Kondisinya mirip-mirip di sini. Gue teruskan perjuangan dia dengan musik reggae di bumi tercinta ini: Indonesia!”.
Berjuang, adalah kata kunci yang sering diucapkan Tony Q. Dan untuk menjadi reggaeman cobalah simak penggalan lagu Reggae berikut ini:
Reggae nggak harus gimbal
Gimbal nggak harus reggae
Reggae nggak harus beganjo
Reggae musik yang pecinta damai..
Tetap Semangat Untuk Menggapai Cita dan Cinta Read more...
Makna dari TRI WARNA (Hijau,Kuning,Merah)
Di Ethiophia 2 november 1930 , diangkat lah seorang kaisar berkulit hitam bergelar Haile Selassie I, raja dari segala raja bagi kaum rastafarian.
masyarakat kulit hitam mengganggapnya sebagai reinkarnasi dari tuhan yang merupakan titisan ataupun kedatangan dan kebangkitan dari Yesus atau roh kudus yaitu Jah yang turun kebumi.
ia mengaku sebagai penguasa 225 aturan dan pembuka jalan yang membentang untuk kembali ke Ajaran menelik yaitu anak dari raja sulaiman dan ratu Sheba.
Pengikut Marcus Garvey di Jamaika mengganggap ini merupakan tanda dari Perjanjian Baru dan Garvey percaya bahwa Haile sellassie adalah raja kulit hitam yang telah dinobatkan dan akan mengangkat derajat rasnya.
Dan ini adalah merupakan cikal bakal dari adanya sebuah aliran agama baru yang disebut Rastafarianisme. Lalu Haile Selassie I memilih warna hijau, kuning dan merah dengan bentuk garis horizontal sebagai bendera kekaisaran dan bendera nasional Ethiopia.
Sedangkan urutan warna ini digunakan berdasarkan suatu cetusan yang dimasukkan ke dalam hukum kerajaan saat tanah Afrika dipimpin oleh Kaisar Menelik II.
dimana garis Hijau selalu berada di atas.Hijau memiliki makna vegetarian yang merupakan salah satu ajaran dari Rastafarian dan melambangkan keindahan alam Afrika.
Kuning emas memiliki makna kejayaan dan juga melambangkan betapa kayanya Afrika. Warna merah memiliki makna mengenang para pejuang Afrika dan melambangkan warna darah
para martir Afrika yang telah berjuang hingga titik darah penghabisan.
dengan gambar singa Yehuda diatasnya merupakan lambang raja dan telah digunakan selama berabad-abad di Ethiopia dan biasa disebut The Lion of Judah membawa salib dan memakai mahkota kekaisaran Ethiopia.
warna ataupun simbol bendera Ethiopia telah beberapa kali munsul dalam warna ataupun urutan yang berbeda selama yang memerintah berbeda pula ..
Wow ternyata warna Hijau,kuning,merah memiliki makna yang dalam sekali ya ?? bukan cuma asal-asalan memilih warna ..
hmm sedangkan di negara kita Indonesia makna warna di dalam tradisi,seni,dan budaya dituangkan dalam warna-warna pada pakaian adat dan aksesoris yang mereka kenakan.
masing-masing dari warna tersebut memiliki makna yang berbeda-beda pula. misalnya saja warna merah dalam masyarakat Adat Gorontalo memiliki makna berani dan bertanggung jawab, warna hijau melambangkan kesuburan negeri indonesia,kesejahteraan dan kedamaian.
dan warna kuning emas bermakna kemuliaan,kesetiaan dan kejujuran.
ada juga di dalam budaya Dayak Kaharingan , warna hijau,kuning,merah tertera pada sebuah kompleks bernama Sandung Pahandut yang berisi satu bangunan mirip rumah panggung, patung-patungan dan dipenuhi ukiran kayu..
Bahkan tertera pula tri warna di lambang logo TMII (Taman Mini Indonesia Indah), merah melambangkan semangat, kuning melambangkan kekayaan dan hijau melambangkan alam.
sungguh luar biasa makna dari Tri warna (hijau, kuning dan merah)
(dari berbagai sumber) Read more...
Senin, 21 Maret 2011
story of Tony Q rastafara
Pria asal Semarang, kota kecil di Jawa tengah, Indonesia, terlahir dengan nama Tony Waluyo Sukmoasih. Lahir dari keluarga sederhana, bakat seni nya telah terihat sejak masa kanak-kanak terutama di dalam bidang seni lukis dan musik.Tony berkenalan dengan dunia musik melalui teman-temannya dan banyak terpengaruhi oleh jenis musik rock dan blues. Selepas menyelesaikan pendidikannya di sekolah kejuruan tehnik (STM) Tony memutuskan untuk memulai karier bermusiknya di kota semarang sebagi pemusik jalanan sejak tahun 1980, hingga membuatnya dekat dengan kehidupan musisi jalanan kota Semarang. Di kota kelahirannya tersebut, Tony sempat membuat album kompilasi anak jalanan dengan teman-temannya dan pernah menjuarai beberapa festival musik jalanan.
Karena ingin mencoba tantangan baru dalam bermusik maka dia pun hijrah dan mencoba mengadu nasib ke Jakarta, ibukota Indonesia. Karena kehidupannya yang dekat dengan musisi jalanan, Tony pun kembali masuk ke komunitas yang sama di Jakarta. Dengan bantuan dari seorang teman yang terlebih dahulu berkecimpung di dunia musisi jalanan Jakarta, Tony pun memberanikan niatnya untuk memulai karier musik di Jakarta sebagai pengamen. Menghibur dan bermain musik dari satu tempat ke tempat lainnya di seputaran pinggiran jalan Jakarta.
Di pertengahan tahun 1984, atas anjuran seorang teman, Tony mulai berkenalan dengan musik country dan mulai mencoba memainkan jenis musik yang pada saat itu belum terlalu populer di kalangan masyarakat Indonesia karena belum banyak musisi yang memainkan genre musik tersebut. Dari eksistensinya bermain musik country, Tony mulai mendapat teman dari kalangan ekspatriat di Jakarta, salah satunya adalah teman-teman dari komunitas kedutaan amerika serikat di Jakarta. Beberapa kali Tony di undang untuk tampil di acara-acara yang diselenggarakan oleh kedutaan amerika serikat dan atas bantuan dari teman-teman di kedutaan dia berhasil mendapatkan undangan untuk bermain di salah satu festival musik country terbesar di amerika yaitu Grand Old Opree yang bertempat di Tennese Amerika Serikat. Akan tetapi dikarenakan kurang adanya dukungan secara finansial, rencana untuk tampil di festival tersebut tidak dapat terealisasikan. Sekian lama bermain musik country Tony mulai merasakan kejenuhan dan merasa bahwa kariernya di musik country tidak berkembang hingga dia memutuskan untuk keluar dari band countrynya dan mulai mencoba mencari jenis musik lain yang lebih sesuai dengan jiwanya.
Tony mulai berkenalan dengan musik reggae di awal tahun 1989, ketika ia jatuh cinta pada sosok legenda musik reggae Bob Marley. Tidak saja terinspirasi dengan musiknya, lirik-lirik lagu dalam setiap Bob Marley benar-benar mengusik naluri bermusiknya, hingga ia yakin untuk memilih berkarier di musik reggae dan mulai mencoba eksis di genre musik tersebut. Di tahun yang sama Tony membentuk band reggae pertamanya yang diberi nama “Roots Rock Reggae”. Band pertamanya tersebut mulai mengawali kariernya dengan main di pub dan cafe-cafe seputaran Jakarta memainkan lagu-lagu milik Bob Marley,Jimmy Cliff dan lain-lain dengan Tony sebagai lead vocal dan lead guitar. Di dalam perjalanannya karier musik reggae nya, Tony sempat membentuk band-band reggae lainnya, seperti “Exodus”, kemudian “Rastaman” dan pada tahun 1994 dia membentuk band yang dikemudian hari ikut membesarkan namanya di dunia musik reggae Indonesia yaitu “Rastafara”.
Dengan Rastafara, karier musik Tony mulai menanjak, dikarenakan pada masa itu sangat jarang musisi band yang memainkan genre musik reggae di jakarta, maka Rastafara cukup dikenal luas di kalangn penikmat musik reggae. Rastafara pada saat itu dianggap sebagai pelopor musik reggae Indonesia dikarenakan merupakan satu-satunya band reggae yang berani untuk membawakan lagu ciptaan sendiri dan berusaha lepas dari bayang-bayang musik reggae ala jamaika dan hampir keseluruhan lagu-lagu Rastafara di ciptakan oleh Tony.
Pada tahun 1995, atas bantuan seorang teman, Rastafara berhasil mendapatkan tawaran untuk rekaman album dari Warner Music Indonesia. Dan akhirnya album perdana bertajuk “Rambut Gimbal” di rilis pada tahun 1996. Album tersebut mendapat respon yang sangat baik, dan berhasil memberikan warna baru dalam industri musik Indonesia yang pada saat itu sedang di dominasi oleh musik Alternative Rock. Hampir semua lagu-lagu di album tersebut diciptakan sendiri oleh Tony ,lirik lagunya kebanyakan bercerita tentang tema sosial, kemanusiaan, cinta dan tema kehidupan masyarakat sehari-hari. Lagunya yang cukup populer pada masa itu adalah “Rambut Gimbal” sebuah istilah untuk style rambut Dreadlock dalam bahasa asing yang kemudian secara tidak langsung dijadikan istilah dalam bahasa Indonesia dan menjadi populer dikarenakannya lagu tersebut.
Perbedaan Rastafara pada saat itu dengan band reggae lainnya adalah karena mereka berhasil memasukan dan memadukan unsur-unsur musik tradisional dengan gaya khas Indonesia kedalam musiknya sehingga terbentuklah musik reggae ala Indonesia yang bisa terlepas dari bayang-bayang musik reggae dunia seperti Bob Marley, UB40 atau Jimmy Cliff. Penggunaan alat-alat musik tradisional seperti Kendang sunda atau Gamelan jawa juga ikut menambah warna musik Indonesia didalam lagu-lagu Rastafara. Aransemen musiknya sepintas juga terlihat mencampurkan unsur-unsur musik melayu.
Pada tahun 1997, kontrak album dengan label musik nya tidak diperpanjang dan Rastafara memutuskan untuk vakum dalam bermusik, hingga akhirnya Tony memutuskan untuk membentuk band baru dengan tetap membawa nama Rastafara.
Pada tahun 1998 terbentuklah Tony Q & New Rastafara, dengan format band additional player. Tetapi kemudian Tony memutuskan untuk bersolo karier dengan tetap membawa nama bandnya Tony Q Rastafara, yang berhasil merilis album secara independent pada tahun 2000 yaitu “Damai Dengan Cinta”. Pada album ke tiganya ini lah Tony mulai menapaki puncak kariernya dalam musik reggae di Indonesia, karena album inilah seorang Professor di bidang musik dari Amerika memberikannya referensi kepadanya untuk ikut dalam ajang Bob Marley Festival di Amerika. Pihak penyelenggara Festival menyukai lagu-lagu yang ada di album tersebut dan kemudian mengundang Tony untuk tampil diacara tersebut pada tahun 2002, tapi sayang sekali Tony beserta rombongannya tidak mendapat izin visa dari Kedutaan Amerika dikarenakan alasan keamanan terkait dengan Tragedi WTC 11 September di Amerika yang terjadi berdekatan dengan rencana keberangkatan Tony ke Amerika.
Pada tahun 2003 albumnya yang ke empat berjudul “Kronologi” di rilis, lagu pada album tersebut merupakan kumpulan dari beberapa lagu dari album-album sebelumnya dan juga beberapa lagu yang belum sempat dirilis.
Kedekatan Tony dengan aktivis LSM dan NGO seperti Green Peace, WALHI,dan lain-lain memberikannya inspirasi untuk membuat album yang mempunyai visi dan misi sosial dan kemanusian yang lebih mendalam dan berarti. Maka pada tahun 2005 lahirlah album kelimanya yang bertitel “Salam Damai” dengan membawa misi dan visi yang ingin disampaikan tentang perdamaian, dalam album ini Tony Q mencoba menggabungkan musik reggae dengan unsur musik orchestra tetapi tidak lupa memasukan unsur tradisional yang semakin kental.
Di penghujung tahun 2005, kembali atas bantuan referensi dari teman lamanya, Professor musicology dari Amerika Serikat, salah satu lagu dari album ketiganya “Damai Dengan Cinta” yaitu “Pat Gulipat” berhasil masuk dalam Album kompilasi musik dunia Putumayo World Music dengan titel “Reggae Playground” yang telah dirilis secara Internasional pada bulan Februari 2006. Sebagai satu-satunya wakil dari benua Asia hal ini juga tidak saja mengaharumkan nama Tony Q sendiri tetapi juga nama Indonesia di mata dunia dan khususnya Musik Reggae ala Indonesia juga dapat lebih dikenal secara Internasional.
Setelah sekian lama berkecimpung di dunia indie label, maka Tony pun mencoba untuk kembali merilis albumnya di major label pada tahun 2007 dengan titel “Anak Kampung”.Nuansa album ke enam nya ini masih mencoba untuk memadukan unsur musik reggae dengan tradisional indonesia dan semakin didominasi oleh lagu-lagu yang bertema sosial, membuat musiknya pun banyak digemari oleh masyarakat kelas menengah kebawah terutama mereka yang berasal dari wilayah luar Jakarta.
Basis penggemar yang semakin berkembang, Tony pun mulai mencoba memfasilitasi keinginan penggemarnya dengan membentuk fans club yang tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia hingga sampai ke negeri tetangga Singapore, Malaysia dan Australia. Pada awal tahun 2009 bertepatan dengan berlangsungnya pesta demokrasi di Indonesia yaitu pemilihan umum Presiden, Tony pun kembali merilis album ke tujuhnya secara independen dengan titel “Presiden” proses rekaman album ini pun sepenuhnya di lakukan di Sydney, Australia. Di album terbarunya tersebut Tony benar-benar ingin memberikan nuansa dan tema politik yang cukup kental demi menyambut dan menanggapi jalannya pemilihan umum Presiden Indonesia.Aransemen musiknya pun semakin bervariasi, Tony kembali bernostalgia dengan musik country, dimana ia coba memasukan unsur gitar banjo khas musik country di album tersebut.
Pada pertengahan tahun 2009, setelah melalui proses yang cukup panjang maka demo lagu yang pernah coba di tawarkan pada sebuah label world musik bernama Cumbancha dari Amerika Serikat milik mantan A&R dari label world music Putumayo, Jacob Edgar,dari Amerika Serikat sejak tahun 2008 pun akhirnya berhasil mencapai kesepakatan. Cumbancha memberikan kesempatan dan tawaran untuk merilis lagu-lagu Tony secara internasional. Album itu sendiri rencananya akan di rilis pada awal tahun 2010 secara internasional yang juga akan di edarkan di Indonesia.
TONY Q RASTAFARA OTOBIOGRAFI
Nama : Tony Waluyo Sukmoasih
Nama panggilan : Tony Q
Nama musisi : Tony Q Rastafara
Tempat/Tgl Lahir : Semarang / 27 April 1961
Album
• Rambut Gimbal (1996), Hemagita Record/BMG
• Gue Fallin In Love (1997), Hemagita Record/BMG
• Damai Dengan Cinta (2000), AK Production
• Kronologi (2003), Indonesia Rasta Production
• Salam Damai (2005), IM Production
• Anak Kampung (2007), 267 Records
• Presiden (2009), Tony Q Production
• Akustik kurangtambah (2010), Tony Q Production
Single & Kompilasi
• “Aku Anak Kampung”, (2005) IRR Compilation Album
• “Pat Gulipat”, (Damai dengan Cinta, 2000) Putumayo World Music
• OST Ai Lop Yu Pul (2009), Maleo Entertainment
Prestasi
• Headliners “Bob Marely Festival” ,Houston TX , USA (2002)
• Invitation “Legend of Rastareggae Festival”, Houston TX,USA (2003-2005)
• Putumayo World Music Album Compilation “Reggae Playground” (2006)
• Discovery, Cumbancha World Music, VA, USA (2010) Read more...
Kamis, 17 Maret 2011
Rintihan Kaum Rastaman
Di penghujung tahun 2006 yang lalu , tepatnya tanggal 28 Desember, Tony Q berkesempatan untuk tampil di acara Kick Andy di Metro TV dengan topik yang memang membahas tentang musik Reggae antara pelaku dan penggemarnya. Selain Tony Q sebagai seorang musisi senior, di acara ini juga turut tampil Steven & Coconut Treez sebagai wakil dari musisi generasi muda dan juga ada keluarga Ibu Sri Tjandara Purnama yang sudah menjadi penggemar musik Reggae sejak lama. Pada intinya di acara ini mencoba mengupas lebih dalam tentang musik Reggae baik dari segi musikalitasnya dan filosofi pemahamannya serta perkembangannya di Indonesia. Salah satu yang menjadi penekanan di dalam hal ini adalah tentang bagaimana musik Reggae masih dipandang sebelah mata dikarenakan identik dengan orang-orang yang berambut panjang tak terurus, kumal, lusuh, dengan rambut gimbalnya yang terkesan nyentrik, musiknya yang terkesan mengayun-ayun, terlalu lambat, kurang bersemangat dan yang paling membuat kesan negatif adalah identiknya musik Reggae dengan menghisap Ganja.
Acara ini di selingi dengan penampilan dari Tony Q Rastafara band, Steven & Coconut Treez band, dan juga penampilan dari keluarga Ibu Sri Tjandra Purnama yang kebetulan membawa serta anak-anak dan suaminya untuk tampil dalam format band membawakan lagu Bob Marley “No Woman No cry”. Pada akhirnya terdapat kesimpulan bahwa untuk menikmati musik Reggae tidak harus selalu dengan menghisap Ganja, dan orang yang menghisap Ganja pun tidak harus selalu mendengarkan musik Reggae ataupun menyukainya karena semuanya dikembalikan ke pribadi orang masing-masing.
Acara ini pun kemudian di tutup dengan kolaborasi antara Steven & Coconut Treez dengan Tony Q Rastafara membawakan lagu hits Tony Q Rastafara “Don’t Worry U Yeah” dari album Salam Damai.
artikel dikutip dari indoradioreggae Read more...
Rabu, 16 Maret 2011
LINK BALIK ?
salam damai ,,,
buat manteman semua untuk mempererat tali persaudaraan kita yg mau tukeran link/ back link tulis di komentar saja Oke : )
syaratnya hehehe (ada syaratnya juga )
1. Berupa blog /website (WordPress, Blogger, Multiply, Tumblr, Live Journal, etc. yang penting blog)
2. Bukan bertujuan untuk promosi produk/link affiliasi, tujuan utama blognya ya sharing tulisan etc.
3. Kalau suatu saat link-nya ngga bisa diakses atau broken link dan blognya kayak kuburan, dalam arti sudah ditinggalkan penulisnya, terpaksa aku hapus dari blogroll blog ini.
Add dulu “all about reggae” – http://anakgimbal.blogspot.com di blogroll mu, okay .. fair :D
Read more...
Reggae Party (DEPOK)
Tempat : Lap. Mess Satwalkol Mabes TNI AU (Radar AURI Cimanggis Depok)
Tanggal/waktu : 2 april 2011 / 15.00 – 01.00 wib
Guest star :
Tony Q Rastafara,
Gangstarasta,
Jokojoker,
Masanis (member asian roots),
varid (mbah surip) feat Kopi Hitam. Primitif, Baksberry,
Rasjiman,waiting rasta, subtropis dll.
Htm : Rp 30.ooo,- (1bks envio + 1btl teh pucuk + perdana axis). di basecamp 37plus8 jl.radar auri cisalak cimanggis
pre sale : Rp 25.000,- (soft drink) di distro IM jl. piloasem 1c no 57 rawamangun jaksel
info contact : 021 9806 2441 Nov All Uyeah Read more...
Reggae Party (BOGOR)
Reggae Party Music Is Oltion In The Life
Part 2
Sabtu , 19 Maret 2011 Jam 10.00 Pagi Till End
…@Taman Fantasi Gunung Putri , Bogor
( Samping Pintu Tol Gunung Putri )
Guest Star :
-Banana Beach
-Senopati Reggae Roots
-Psycho
Featuring :
- Cocktail
-Soto Baganja
-Gato Negro
-Kopi Hitam
-Brada Jah Rastafari
-Gembel Rasta
-Datang Bulan
-Jah Hope
-Nani Senjaya
-Cartoon
-Cory & d’Jamming
-Starbaks
Content :
-Bazar
-Pameran Motor
HTM : Rp.5000 Read more...
sejarah singkat adanya REGGAE
Tahun 1968 banyak disebut sebagai tahun kelahiran musik reggae. Sebenarnya tidak ada kejadian khusus yang menjadi penanda awal muasalnya, kecuali peralihan selera musik masyarakat Jamaika dari Ska dan Rocsteady, yang sempat populer di kalangan muda pada paruh awal hingga akhir tahun 1960-an, pada irama musik baru yang bertempo lebih lambat : reggae. Boleh jadi hingar bingar dan tempo cepat Ska dan Rocksteady kurang mengena dengan kondisi sosial dan ekonomi di Jamaika yang sedang penuh tekanan.
Kata “reggae” diduga berasal dari pengucapan dalam logat Afrika dari kata “ragged” (gerak kagok–seperti hentak badan pada orang yang menari dengan iringan musik ska atau reggae). Irama musik reggae sendiri dipengaruhi elemen musik R&B yang lahir di New Orleans, Soul, Rock, ritmik Afro-Caribean (Calypso, Merengue, Rhumba) dan musik rakyat Jamaika yang disebut Mento, yang kaya dengan irama Afrika. Irama musik yang banyak dianggap menjadi pendahulu reggae adalah Ska dan Rocksteady, bentuk interpretasi musikal R&B yang berkembang di Jamaika yang sarat dengan pengaruh musik Afro-Amerika. Secara teknis dan musikal banyak eksplorasi yang dilakukan musisi Ska, diantaranya cara mengocok gitar secara terbalik (up-strokes), memberi tekanan nada pada nada lemah (syncopated) dan ketukan drum multi-ritmik yang kompleks.
Teknik para musisi Ska dan Rocsteady dalam memainkan alat musik, banyak ditirukan oleh musisi reggae. Namun tempo musiknya jauh lebih lambat dengan dentum bas dan rhythm guitar lebih menonjol. Karakter vokal biasanya berat dengan pola lagu seperti pepujian (chant), yang dipengaruhi pula irama tetabuhan, cara menyanyi dan mistik dari Rastafari. Tempo musik yang lebih lambat, pada saatnya mendukung penyampaian pesan melalui lirik lagu yang terkait dengan tradisi religi Rastafari dan permasalahan sosial politik humanistik dan universal.
Album “Catch A Fire” (1972) yang diluncurkan Bob Marley and The Wailers dengan cepat melambungkan reggae hingga ke luar Jamaika. Kepopuleran reggae di Amerika Serikat ditunjang pula oleh film The Harder They Come (1973) dan dimainkannya irama reggae oleh para pemusik kulit putih seperti Eric Clapton, Paul Simon, Lee ‘Scratch’ Perry dan UB40. Irama reggae pun kemudian mempengaruhi aliran-aliran musik pada dekade setelahnya, sebut saja varian reggae hip hop, reggae rock, blues, dan sebagainya.
Jamaika
Akar musikal reggae terkait erat dengan tanah yang melahirkannya: Jamaika. Saat ditemukan oleh Columbus pada abad ke-15, Jamaika adalah sebuah pulau yang dihuni oleh suku Indian Arawak. Nama Jamaika sendiri berasal dari kosa kata Arawak “xaymaca” yang berarti “pulau hutan dan air”. Kolonialisme Spanyol dan Inggris pada abad ke-16 memunahkan suku Arawak, yang kemudian digantikan oleh ribuan budak belian berkulit hitam dari daratan Afrika. Budak-budak tersebut dipekerjakan pada industri gula dan perkebunan yang bertebaran di sana. Sejarah kelam penindasan antar manusia pun dimulai dan berlangsung hingga lebih dari dua abad. Baru pada tahun 1838 praktek perbudakan dihapus, yang diikuti pula dengan melesunya perdagangan gula dunia.
Di tengah kerja berat dan ancaman penindasan, kaum budak Afrika memelihara keterikatan pada tanah kelahiran mereka dengan mempertahankan tradisi. Mereka mengisahkan kehidupan di Afrika dengan nyanyian (chant) dan bebunyian (drumming) sederhana. Interaksi dengan kaum majikan yang berasal dari Eropa pun membekaskan produk silang budaya yang akhirnya menjadi tradisi folk asli Jamaika. Bila komunitas kulit hitam di Amerika atau Eropa dengan cepat luntur identitas Afrika mereka, sebaliknya komunitas kulit hitam Jamaika masih merasakan kedekatan dengan tanah leluhur.
Sejarah gerakan penyadaran identitas kaum kulit hitam, yang kemudian bertemali erat dengan keberadaan musik reggae, mulai disemai pada awal abad ke-20. Adalah Marcus Mosiah Garvey, seorang pendeta dan aktivis kulit hitam Jamaika, yang melontarkan gagasan “Afrika untuk Bangsa Afrika…” dan menyerukan gerakan repatriasi (pemulangan kembali) masyarakat kulit hitam di luar Afrika. Pada tahun 1914, Garvey mendirikan Universal Negro Improvement Association (UNIA), gerakan sosio-religius yang dinilai sebagai gerakan kesadaran identitas baru bagi kaum kulit hitam.
Pada tahun 1916-1922, Garvey meninggalkan Jamaika untuk membangun markas UNIA di Harlem, New York. Konon sampai tahun 1922, UNIA memiliki lebih dari 7 juta orang pengikut. Antara tahun 1928-1930 Garvey kembali ke Jamaika dan terlibat dalam perjuangan politik kaum hitam dan pada tahun 1929 Garvey meramalkan datangnya seorang raja Afrika yang menandai pembebasan ras kulit hitam dari penindasan kaum Babylon (sebutan untuk pemerintah kolonial kulit putih—merujuk pada kisah kitab suci tentang kaum Babylon yang menindas bangsa Israel). Ketika Ras Tafari Makonnen dinobatkan sebagai raja Ethiopia di tahun 1930, yang bergelar HIM Haile Selassie I, para pengikut ajaran Garvey menganggap Ras Tafari sebagai sosok pembebas itu. Mereka juga menganggap Ethiopia sebagai Zion—tanah damai bak surga—bagi kaum kulit hitam di dalam maupun luar Afrika. Ajaran Garvey pun mewujud menjadi religi baru bernama Rastafari dengan Haile Selassie sebagai sosok yang di-tuhan-kan
Pada bulan April 1966, karena ancaman pertentangan sosial yang melibatkan kaum Rasta, pemerintah Jamaika mengundang HIM Haile Selassie I untuk berkunjung menjumpai penghayat Rastafari. Dia menyampaikan pesan menyediakan tanah di Ethiopia Selatan untuk repatriasi Rasta. Namun Haile Selassie juga menekankan perlunya Rasta untuk membebaskan Jamaika dari penindasan dan ketidak adilan dan menjadikan Rastafari sebagai jalan hidup, sebelum mereka eksodus ke Ethiopia.
Tahun-tahun setelahnya kredo gerakan tersebut makin tersebar luas, yakni “Bersatunya kemanusiaan adalah pesannya, musik adalah modus operandinya, perdamaian di bumi seperti halnya di surga (Zion) adalah tujuannya, memperjuangkan hak adalah caranya dan melenyapkan segala bentuk penindasan fisik dan mental adalah esensi perjuangannya.” Ketika Bob Marley menjadi pengikut Rastafari di tahun 1967 dan setahun kemudian disusul kelahiran reggae, maka modus operandi penyebaran ajaran Rastafari pun ditemukan: reggae!
Read more...
Album Kompilasi INDOREGGAE
Sekapur Sirih…
Ketika dihadapkan dengan tantangan besar, janganlah melihat yang di hadapan kita, sebaiknya fokus kepada apa yang dapat terjadi. Singa takut kepada penjinak singa yang bertubuh kecil bukan kepada pria besar dan kuat yang menunjukkan rasa takut kepada singa. Bersedialah untuk keluar dari zona kenyamanan dan melakukan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan sebelumnya. Selalu tetap terbuka terhadap gagasan-gagasan dan kesempatan baru. Realitas diatas merupakan motivasi dan tujuan kami, selain itu juga sebuah kehormatan bagi kami mengajak partisipasi band kamu dapat ikut dalam Album Kompilasi Everybody Love Reggae yang merupakan album free-download untuk menggaungkan musik reggae ke seluruh penjuru dunia. Ini adalah momentum atau sebuah loncatan kreatifitas dalam cara yang berbeda bagi band kamu dengan harapan dapat naik ke permukaan di blantika musik Indonesia.
Didukung dengan link media massa yang kami miliki, dan memang sebagian besar dari kami adalah mantan orang media (MajalahMingguan Berita Editor-Tiras, Tabloid Mingguan Berita Penta), dan juga tentunya dengan link komunitas reggae di seluruh dunia yang telah terjalin keakraban dengan kami, hal ini pula yang membuat kami diakui oleh komunitas reggae lainnya di belahan dunia sana. Dikarenakan kami adalah salah satu komunitas atau masyarakat musik reggae di dunia yang telah menggelar acara musik reggae terbanyak di dunia dalam kurung waktu kurang dari lima tahun, dan selalu berupaya dengan segala kemampuan yang kami miliki untuk mendukung munculnya band-band reggae baru berbakat dalam beraktualisasi dalam acara-acara yang kami selenggarakan.
Munculnya sebuah karya Album Kompilasi Indoreggae tersebut, merupakan waktunya kami membuat gebrakan dengan bantuan media massa agar sosialisasi musik reggae yang kami usung semakin kuat dalam blantika musik di Indonesia, dan komunitas musik reggae di seluruh dunia. Bersatu kita kokoh dan mandiri menghadapi segalanya. Kini waktunya musisi reggae Indonesia bergerak ikut andil dalam perkembangan musik reggae di dunia. So..jika teman-teman band atau musisi ingin ikut itu jelas sebuah kehormatan bagi kami, dan jika teman-teman punya kenalan musisi atau band baru silahkan share note ini. Tetap Semangat karena Tuhan selalu bersama orang-orang berani dan kreatif..!
Salam Damai & Saling Dukung Menuju Musik Reggae Yang Sukses adalah milik kita bersama!
Indoreggae.com – Indonesia Reggae Society
One Love One Soul
(buat teman-teman band atau musisi) silahkan gabung…
download detail seputar album kompilasi indoreggae di SINI
artikel dikutip dari indoreggae.com
Read more...







